TentangProgramSistem & BiayaKontakArtikel
Indonesia Darurat Buta Huruf Al‑Quran

Indonesia Darurat Buta Huruf Al‑Quran: Berapa Jumlahnya?

Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, namun di balik kemasyhuran ini tersimpan persoalan serius: tingginya angka buta huruf Al‑Quran di kalangan umat Islam. Berbagai riset menyebut angka yang jauh di atas separuh umat Islam, sehingga tidak berlebihan jika banyak pihak menyebut kondisi ini sebagai “darurat buta huruf Al‑Quran”.

Data Angka Buta Huruf Al‑Quran di Indonesia

Berdasarkan penelitian Tim Institut Ilmu Al‑Qur’an (IIQ) Jakarta, tingkat buta huruf Al‑Quran di Indonesia mencapai sekitar 72,25 persen dari total responden Muslim yang disurvei di 25 provinsi. Artinya, dari setiap 100 orang Muslim, hanya sekitar 28 orang yang tergolong sudah bisa membaca Al‑Quran dengan cukup baik.pendidikan.

Angka ini meninggi dibanding data sebelumnya. Dewan Masjid Indonesia pernah menyebut sekitar 65 persen umat Islam Indonesia belum mampu membaca Al‑Quran, sedangkan Sensus BPS 2018 menunjukkan literasi Al‑Quran umat Muslim baru sekitar 53,57 persen yang masih tergolong rendah.

Makna dari Angka‑Angka Itu

Dengan penduduk Muslim Indonesia yang mencapai sekitar 230–270 juta jiwa, angka buta huruf Al‑Quran 72,25 persen berarti sekitar 140–190 juta umat Islam belum bisa membaca Al‑Quran dengan lancar.

Sementara itu, penelitian Kementerian Agama tentang Indeks Literasi Al‑Quran 2023 menunjukkan bahwa responden yang sama‑sama belum memiliki literasi baca Al‑Quran mencapai 38,49 persen, meski indeks keseluruhan tercatat tinggi (66,038). Artinya, meski secara umum masyarakat Indonesia dinilai sudah cukup “melek” Al‑Quran, tetap ada sekitar 4 dari 10 muslim yang belum bisa membaca kitab suci dengan baik.

Faktor Penyebab Buta Huruf Al‑Quran

Beberapa faktor utama yang membuat angka buta huruf Al‑Quran di Indonesia masih tinggi antara lain:

  • Kurangnya akses ke Al‑Quran dan media pembelajaran
    Distribusi Al‑Quran dan fasilitas belajar (seperti majelis ngaji, TPA, dan lembaga BTQ) belum merata, terutama di daerah pinggiran.
  • Kekurangan guru ngaji dan tenaga pendidik Al‑Quran
    Jumlah guru ngaji yang ada hanya sekitar 928 ribu untuk ratusan juta muslim, sehingga beban per satu guru menjadi sangat besar.
  • Kurangnya minat dan motivasi belajar
    Banyak pelajar dan dewasa yang tidak menjadikan BTQ sebagai prioritas, di samping kesibukan sekolah, kuliah, atau pekerjaan.
  • Kondisi ekonomi dan lingkungan keluarga
    Keterbatasan biaya dan kurangnya contoh dari orang tua yang aktif membaca Al‑Quran ikut memengaruhi minat generasi muda.

Dampak Sosial dan Agama

Tingginya angka buta huruf Al‑Quran berdampak pada beberapa hal penting.

  • Ketergantungan pada pemahaman kedua tangan
    Karena sebagian besar tidak bisa membaca langsung, banyak umat hanya mengandalkan penjelasan orang lain atau guru ngaji tanpa memahami sumbernya secara langsung.
  • Potensi lemahnya literasi religius
    Kecurangan oknum, fakta keagamaan yang salah, atau fatwa yang dipotong tanpa konteks, lebih mudah menyebar jika masyarakat tidak terbiasa membaca Al‑Quran sendiri.pendidikan.
  • Kesenjangan antara identitas dan praktik
    Secara identitas sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim, namun tingkat kedekatan langsung dengan Al‑Quran masih rendah.

Upaya Mengentaskan Buta Huruf Al‑Quran

Pemerintah dan berbagai lembaga keagamaan, seperti Kementerian Agama, Dewan Masjid Indonesia, dan lembaga‑lembaga pendidikan Islam, sudah mulai menggulirkan program pemberantasan buta huruf Al‑Quran. Program‑program tersebut antara lain:

  • Peningkatan jumlah dan kualitas guru ngaji melalui pelatihan dan insentif.
  • Pembuatan dan distribusi Al‑Quran secara massal, termasuk program percetakan Al‑Quran di berbagai daerah.
  • Penguatan unit pembelajaran Al‑Quran di sekolah, madrasah, masjid, dan komunitas, seperti TPA, majelis BTQ, dan program pelajar BTQ.
  • Pemanfaatan media digital dan media sosial untuk pembelajaran BTQ jarak jauh, sehingga lebih mudah diakses oleh remaja dan generasi muda.

Peran Individu dan Keluarga

Selain peran pemerintah dan lembaga keagamaan, keluarga juga memiliki tanggung jawab besar dalam menurunkan angka buta huruf Al‑Quran. Beberapa langkah yang bisa diambil:

  • Menyediakan Al‑Quran di rumah dan membiasakan anak membaca minimal 1–2 halaman setiap hari.pendidikan.
  • Mendaftarkan anak ke TPA, majelis BTQ, atau pondok pesantren minimal seminggu sekali.
  • Menjadikan Al‑Quran sebagai bagian dari rutinitas harian, misalnya membaca bersama setelah Isya atau saat sahur.

Mengubah “Indonesia Muslim” Menjadi “Indonesia Literasi Al‑Quran”

Angka 72,25 persen buta huruf Al‑Quran jelas bukan angka yang bisa disepelekan. Namun, jika diimbangi dengan kesadaran kolektif, dukungan pemerintah, dan peran aktif keluarga serta komunitas, persoalan ini bisa secara bertahap ditekan.

Indonesia tidak hanya perlu menjadi negara dengan jumlah Muslim terbesar, tetapi juga masyarakat yang benar‑benar dekat dengan Al‑Quran, sehingga ayat‑ayat kitab suci menjadi rujukan hidup, bukan sekadar hiasan di etalase ruang tamu.